Menaklukan Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh di masa Pandemi Covid-19
Sejak
ditetapkanya Sosial Distance untuk
mencegah penyebaran wabah virus Covid-19 di Indonesia, maka terjadilah pembatasan pertemuan
dalam skala besar yang juga berdampak pada dunia pendidikan. Hal ini
menyebabkan kegiatan belajar mengajar di sekolah yang awalnya dengan sistem tatap
muka dikelas, berganti mengharuskan sistem pembelajaran disekolah menjadi
pembelajaran jarak jauh (PJJ) dalam jaringan (daring) secara online. Sedangkan kesiapan dalam menghadapi hal
tersebut masih sangat kurang dan terbatas. Mengingat semua terjadi secara
mendadak dan minim pengalaman. Namun karena wabah Covid belum berakhir maka mau
tidak mau dunia pendidikan terutama guru dan siswa dituntut untuk menyesuaikan diri.
Tujuan
pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada
dasarnya adalah untuk tetap memberikan layanan pendidikan kepada siswa yang
tidak dapat mengikuti pembelajaran secara tatap muka dengan memnfaatkan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK). Baik itu
melalui Whatsapp grub kelas, Facebook, Google classroom dll yang bersifat
terbuka, belajar mandiri, dan belajar tuntas.
Dalam
hal ini, Pembelajaran jarak jauh yang telah berjalan beberapa bulan terakhir
memiliki beberapa tantangan, diantaranya :
1. Keluhan
peserta didik yang tidak memiliki gadget android atau peserta didik yang
meminjam gadget orang tuanya. Sehingga mereka tidak dapat tepat waktu mengikuti
pembelajaran daring dikarenakan gadget yang digunakan untuk belajar secara
daring masih dibawa orangtuanya bekerja.
2. Keluhan
beberapa orangtua yang keduanya sama-sama bekerja, sehingga tidak dapat
memantau atau membimbing secara langsung putra-putrinya ketika pembelajaran
daring berlangsung. Akibatnya siswa malas mengerjakan tugas dan jarang hadir
atau jarang mengikuti pembelajaran.
3. Kuota
pulsa terbatas (sebelum diberikan bantuan kuota oleh pemerintah) atau jaringan
sinyal yang lemah. Karena ada beberapa siswa yang pulang ke kampung halaman dikarenkan
orangtuanya tidak lagi dapat bekerja karena dampak pandemi Covid-19.
4. Banyak
siswa yang merasa jenuh dengan pembelajarn jarak jauh (daring) karena tidak dapat bertemu
dan bermain dengan teman-temanya.
Solusi
untuk mengatasi hal tersebut untuk keluhan pertama yaitu guru menghubungi siswa
via telp minimal sekali dalam seminggu untuk memberikan tugas kepada siswa
untuk seminggu kedepan. Karena kendala keterbatasan teknologi, maka sebaiknya
materi atau tugas yang diberikan tidak terlalu banyak/berat dan tetap sesuai
dengan kurikulum silabus pembelajaran. Serta menyesuaikan dengan salah satu pokok
kebijakan baru Kemendikbud RI tentang Program
Merdeka Belajar yaitu menerapkan asesmen kompetensi minimum dan survey karakter
yang menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik. Hal ini juga dapat
diterapkan untuk mengatasi keluhan yang ke 3. Sedangkan untuk poin ke 2 dan 4,
disini guru memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan kreatifitas
dalam mengelola media atau metode untuk menympaikan materi dalam pembelajaran
jarak jauh. Jika siswa malas atau tidak ada semangat untuk belajar maka ilmu
dan hasil yang diperoleh juga tidak akan maksimal. Oleh karena itu, peran guru
disini dituntut untuk memberikan metode belajar yang bervariasi kepada siswa
supaya siswa senang dan memiliki semangat untuk belajar sekalipun memalui pembelajaran
jarak jauh. Suatu contoh misalnya memberikan video pembelajaran , quiz,
percobaan sederhana, games edukasi, project based learning misalnya mengajak
siswa membuat video gabungan hasil karya literasi dan numerasi dalam suatu grub.
Momen ini akan menjadi waktu yang tepat bagi orang tua untuk lebih memahami dan membantu tantangan belajar anak-anak mereka. Dan situasi ini akan memberikan pelajaran yang baik serta menjadi media untuk memperbaiki diri,baik bagi siswa,guru ataupun orangtua. Karena cara terbaik untuk belajar suatu hal baru adalah keluar dari zona nyaman dan siap untuk beradaptasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar